Abd. Saleh

Sejarah

Pangkalan TNI AU Abdulrachman Saleh sebelumnya adalah Pangkalan Udara Bugis yang dibangun dan didirikan oleh pemerintah colonial Belanda, bersamaan waktunya dengan pendirian pangkalan udara lain yaitu Maospati di Madiun, Panasan di Solo, Maguo di Jogjakarta dan pangkalan lainnya, sekitar tahun 1930.   Letak dari Pangkalan Udara Bugis adalah 17 KM di sebelah timur kota Malang.

 

Pada jaman Jepang, Pangkalan Udara Bugis dipakai oleh Angkatan Daratnya Jepang yaitu Rikugun, yang dipergunakan sebagai tempat persediaan barang-barang keperluan militernya.   Setelah Jepang kalah perang, Pangkalan Bugis dapat kita kuasai dan segera mengidupkan kembali segala kegiatan penerbangan dengan memperbaiki serta mencoba menerbangkan pesawat-pesawat peninggalan Jepang.   Disamping itu juga melakukan penertiban dibidang organisasi serta mendidik kader-kader baru, dengan merintis membuka Sekolah Radio Udara (SRU) dan Sekolah Militer Udara (SMO).

 

Berdasarkan ketetapan pemerintah nomor 6/SD/1946, tanggal 9 April 1946, menetapkan pengesahan organisasi TNI Angkatan Udara (setelah Tentara Republik Indonesia /TRI berubah menjadi TNI) sehingga kedudukan TNI AU disejajarkan dengan angkatan-angkatan lain.   Selanjutnya oleh pimpinan markas tertinggi TNI AU di Jogjakarta ditetapkan Komodor Prof.DR. Abdulrachman Saleh menjadi Komandan Pangkalan Udara Bugis yang merangkap Komandan Pangkalan Udara Maospati Madiun.   Upacara serah terima dilaksanakan pada tanggal 9 April 1946 di Markas TRI Udara jalan Dempo Malang yang disaksikan oleh utusan Divisi VIII Letnan Kolonel Soekotjo.

 

Selama lebih kurang 4 bulan dibawah pimpinan Komodor Prof. DR. Abdulrachman Saleh, Pangkalan Udara Bugis mengalami banyak kemajuan dan pembangunan.   Tetapi dengan adanya agresi militer Belanda pada tanggal 21 Juli 1947, Pangkalan Udara Bugis ikut dikuasai oleh Belanda yaitu pada masa Clash pertama dan kedua, kota Malang dan Pangkalan Udara Bugis diduduki oleh pasukan Belanda.

 

Setelah agresi militer Belanda berakhir dan diakuinya kedaulatan Republik Indonesia, dalam salah satu pasal dalam perjanjian Konfernsi Meja Bundar tentang Angkatan Udara akan diusahakan reorganisasi Angkatan Udara diselesaikan dalam waktu 6 bulan sesudah pengakuan kedaulatan.   Maka secara berangsur-angsur dilakukan serah terima wewenang Pangkalan Udara di seluruh Indonesia.    Serah terima Pangkalan Udara Bugis dilaksanakan pada tanggal 17 April 1950 dari Leutenant Bakker selaku Komandan Pangkalan Udara Bugis sebagai wakil dari Angkatan Udara Kerajaan Belanda kepada Opsir Muda Udara II Soewarna sebagai wakil dari Angkatan Udara Republik Indonesia.

 

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa dalam suatu misi kemanusiaan Komodor Prof.DR. Abdulrachman Saleh, yang waktu itu masih menjabat Komandan Pangkalan Udara Bugis, pada tanggal 29 Juli 1947 gugur karena pesawat yang ditumpanginya  (Dakota VT-CLA) ditembak jatuh oleh pesawat Belanda.

 

Atas pengorbanan dan jasa-jasanya, pimpinan TNI AU menetapkan untuk mengabadikan namanya sebagai pengganti nama Pangkalan Udara Bugis yang peresmiannya dilaksanakan bertepatan dengan peringatan HUT Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1952.





Pengumuman

Link

Lanud Abd. Saleh